ASTRID punya cerita

Selasa, 06 April 2010

Olahraga Uji Nyali


Selain bersepeda, R2 Tim Cruiser Division Bandung juga melakukan kegiatan olahraga yang bernama Gravity Bike. Olahraga ini merupakan olahraga yang sangat menguji nyali pemainnya. Dibutuhkan keberanian yang ekstra jika ingin mencoba olahraga ini.
Gravity Bike yang dikembangkan oleh R2 Tim Cruiser Division Bandung ini merupakan satu-satunya olahraga Gravity Bike di Indonesia. Olahraga ini dilakukan di jalan menurun dan baru dikembangkan di Amerika dan Australia. Saat ini, Indonesia sudah masuk urutan keempat untuk olahraga ini.
Jenis sepeda yang digunakan hampir sama dengan sepeda lowrider. Keduanya sama-sama menggunakan banana sit sebagai tempat duduk pemainnya, memiliki sisi bar, dan menggunakan rangka sepeda jenis cruiser 20. Sedangkan untuk Gravity Bike, sepeda yang digunakan hanya mengandalkan jalan turunan, tidak memiliki pedal, maksimum kecepatannya 137 km/jam, serta menggunakan rem hidrolic dan ban maxis.
Tidak sembarangan orang mau dan mampu bermain Gravity Bike. Ada juga anggota R2 Tim Cruiser Divison Bandung yang tidak bermain Gravity Bike. Sejauh ini, baru ada 1 pemain wanita untuk Gravity Bike. Pemain itu bernama Ginanda yang baru berusia 14 tahun. Kecepatan yang sudah berhasil ditempuhnya yaitu 100km/jam.
Aji mengakui kalau di luar negeri, sepeda yang digunakan untuk kegiatan Gravity Bike adalah sepeda jenis BMX. Namun, R2 Tim Cruiser Division Bandung berusaha untuk membuat sesuatu yang berbeda dengan menggunakan jenis sepeda lowrider.
Sepinya peminat lowrider di kota Bandung saat ini membuat Aji berinsiatif untuk membuat sesuatu yang berbeda dengan cara mengembangkan olahraga Gravity Bike. Aji berharap dengan adanya olahraga ini, orang-orang mulai kembali memiliki kecintaan dengan sepeda lowrider. “Bulan Mei-Juni kita dapat undangan ke Kuala Lumpur untuk latihan Gravity Bike untuk 4 negara Asia” ungkap pria yang sudah 5 tahun menjadi pecinta sepeda lowrider ini. Di Bandung sendiri, R2 Tim Cruiser Division Bandung sekarang ini melakukan latihan di Stamfort Dago, setelah sebelumnya mereka sempat berlatih di Dago Atas sampai Depan Hotel Sheraton. Mereka terpaksa berpindah tempat latihan karena situasi jalan yang rusak dan sudah tidak memungkinkan untuk latihan di jalan itu.
Tahun ini sebenarnya ada banyak kegiatan yang bisa mengangkat kembali komunitas lowrider. Setelah kemarin ada Urban Fest di Ancol, Ocean Park di Tangerang, bulan Juni nanti juga akan ada kontes di Bali. “Saya merasa senang karena tahun ini adalah tahun besar untuk komunitas lowrider, walaupun di Bandung sendiri sekarang ini sudah mulai jenuh” papar Adyta, pria kelahiran Jakarta, 15 Mei 1987 di tempat berkumpulnya anggota komunitas lowrider. *Astrid

Dua Tahun, Segudang Prestasi


Apa yang ada dipikiran Anda saat mendengar kata sepeda? Anda pasti langsung teringat masa-masa kecil dulu saat bermain sepeda bersama teman-teman. Kini Anda tidak perlu lagi mengingat masa-masa kecil Anda, karena sekarang Anda tetap bisa bermain sepeda walaupun Anda bukan lagi anak kecil.

Di kota Bandung ada sebuah komunitas yang bisa membuat Anda bermain sepeda kembali seperti waktu kecil dulu. Komunitas tersebut bernama R2 Tim Cruiser Division Bandung. Disini, jenis sepeda yang digunakan sangat unik dibandingkan sepeda biasa yang sering kita gunakan. Sepeda yang digunakan oleh komunitas ini memiliki tempat duduk yang bernama banana sit, menggunakan rem torpedo, memiliki sisi bar, dan menggunakan jenis rangka sepeda cruiser 20. Komunitas ini baru berdiri sejak 2 tahun lalu, namun prestasi yang mereka peroleh sudah tidak perlu diragukan lagi.

Di bawah pimpinan Sapto Aji sebagai ketua sekaligus pelopor berdirinya, komunitas ini sudah memiliki segudang prestasi. Aji menyebutkan beberapa prestasi yang pernah diraih oleh komunitas R2 Tim Cruiser Division Bandung, diantaranya adalah 2 kali mengikuti Bandung Lowrider Sindikat (BLS), Juara 1 kelas Chopper di Motor Plus, mendapat peringkat sebagai The Best Paint dan juga Best Chopper, serta masih banyak lagi prestasi lainnya. “Saking banyaknya saya sampai lupa”, tutur Aji saat ditemui Bandung Ekspres di rumahnya yang juga merupakan tempat berkumpulnya anggota komunitas R2 Tim Cruiser Division Bandung.

Sapto Aji, pria kelahiran Bandung, 19 Februari 1977 ini mengakui bahwa semua ini berawal dari komunitas mobil balap yang merupakan tempat Aji sebelumnya. Saat itu, Aji mengajak konsumennya untuk bermain sepeda lowrider, kemudian berkembang dari mulut ke mulut sampai akhirnya anggotanya terus bertambah. “Peralatan yang digunakan pun sebenarnya berawal dari kegiatan Aji yang senang merakit barang-barang. Sedangkan untuk nama R2 sendiri berawal dari alamat rumah Aji yang terdapat di Jalan Rambutan No.2.” ungkap Aji sambil tertawa.

Jumlah anggota R2 Tim Cruiser Division Bandung, sejauh ini sebenarnya ada 83 orang, namun jumlah yang aktif hanya 15-20 orang. Hal ini disebabkan karena para anggota itu memiliki kesibukan lain seperti sekolah, kuliah, atau kerja. Untuk anggota R2 Tim Cruiser Divison Bandung, tidak ada batasan usia. “Siapa pun yang ingin bergabung boleh saja, disini kami tidak memberikan batasan usia. Pelajar pun boleh bergabung disini” tambah Adyta yang merupakan salah satu anggota sekaligus pengembang komunitas R2 Tim Cruiser Division Bandung saat kami temui bersama Aji.

Kalau Anda ingin memiliki sepeda seperti ini, Anda bisa membelinya mulai dari harga Rp 2 juta sampai puluhan juta rupiah. Sekarang ini, Aji mengakui kalau peminat sepeda lowrider di kota Bandung sudah berkurang. Mungkin orang-orang Bandung cenderung mulai bosan karena tren sepeda lowrider di kota Bandung sudah ada sejak lama. Namun, untuk orang-orang di kota Jakarta dan Bali, sepeda jenis ini sedang banyak diminati dan mereka menjadi konsumen terbanyak yang memesan sepeda lowrider saat ini.

R2 Tim Cruiser Division Bandung sering melakukan kegiatan Sahur on The Street bersama dengan VW Safari Club Bandung (VCB). Selain itu, kegiatan yang pernah dilakukan oleh R2 Tim Cruiser Division Bandung diantaranya Autoland, Bandung Blossom, Jawa Barat Expo, Launching PAMOEA (Paguyuban Mobil Eropa Australia), dan masih banyak lagi kegiatan lainnya. Selain kegiatan-kegiatan khusus itu, R2 Tim Cruiser Division Bandung juga melakukan kegiatan rutin setiap hari Kamis pukul 10 malam dengan rute perjalanan dari Jalan Rambutan No. 2 melewati Ahmad Yani, kemudian menuju Simpang Lima dilanjutkan ke Asia Afrika, lalu ke Braga dan berakhir di Dago melewati Pasupati. Sampai di Dago, seluruh anggota beristirahat, makan, dan kembali pulang. *Astrid

Senin, 29 Maret 2010

Menjadi Sahabat Pelanggan



Kalau kita berbicara soal awal mula Adity Boutique, ini semua tidak terlepas dari usaha dan kerja keras Adity sendiri. Awalnya, butik ini hanya merupakan butik kecil yang belum berbadan hukum. Tapi, berkat bimbingan dan dukungan dari kedua orangtuanya, Adity menjadi semakin tahu dan paham bagaimana cara berusaha yang baik dan benar.

Barang-barang yang ditawarkan, awalnya hanya dibeli dari tempat lain dan kemudian dijual kembali. Namun, Adity terus belajar dan berusaha, sampai akhirnya ia pun belajar cara membuat baju dan sepatu sendiri. Untuk baju, ia belajar dari sang mama. Sedangkan sepatu, ia khusus belajar “Food Wear and Tachnical Design” di Italia untuk bisa mendapatkan ilmu tentang cara membuat sepatu sendiri.

Butik ini akhirnya berkembang menjadi butik keluarga. Untuk baju, ia menerima barang-barang melalui titipan orang yang ingin menjual barang-barangnya. Untuk sepatu, sandal, dan kebaya, ia membuka workshop dengan menggunakan tenaga sekitar 20 orang dalam pembuatannya. Orang-orang itu diajarkan sendiri olehnya bagaimana cara membuat sepatu dan sandal.

Untuk urusan pelanggan, tidak perlu diragukan lagi. Adity Boutique melayani pelanggannya dengan sangat baik. Walaupun komplain memang selalu ada, namun setelah itu pelanggan selalu merasa puas dengan hasil akhirnya. Pelangan Adity Boutique tidak hanya orang-orang yang datang ke butik untuk melihat-melihat terlebih dahulu, tetapi juga mereka yang membeli lewat online shop atau pesanan-pesanan khusus. Adity mengaku tidak memiliki patokan khusus untuk pelanggannya. Semua umur, mulai dari pelajar, mahasiswa, sampai ibu-ibu yang masih suka berpenampilan modish boleh datang kesini.

Saat kami mengunjungi Adity Boutique memang terlihat beberapa ibu-ibu dari kalangan menengah ke atas yang sedang berkonsultasi masalah kebaya. Mereka tampak asik dan nyaman saat berbicang-bincang dengan Adity. Itulah yang diterapkan oleh Adity kepada pelanggannya. Tidak hanya pelanggan, Adity juga ramah kepada seluruh karyawannya sehingga membuat pelanggan dan karyawan merasa betah dekat dengannya.

Promosi yang dilakukan Adity Boutique juga sangat banyak. Mulai dari diskon hingga 70% di pertengahan tahun dan di akhir tahun, serta promo-promo yang diadakan saat anniversary Adity Boutique sekitar bulan Februari sampai Maret. “Kalau lagi anniversary, kita biasanya ada promo buy 1 get 1 free atau setiap belanja Rp 500 ribu gratis sesuatu. Kan yang penting pelanggan senang”, ungkap anak bungsu dari 2 bersaudara ini.

Sejauh ini, Adity mengaku tidak merasa kesulitan dalam menarik pelanggan. Semua itu diperolehnya melalui kenalan-kenalan dan temen-temannya yang melakukan promosi dari mulut ke mulut.. “Apalagi dengan online shop, ini benar-benar cara untuk mempermudah banget. Orang-orang yang awalnya gak tahu, lalu menjadi tahu.” tambahnya kemudian

Selama ini, Adity Boutique juga pernah melalukan kerja sama dengan artis-artis yang akan manggung serta fotografer-fotografer yang ingin membuat portofolio. Untuk kerjasama seperti ini, biasanya Adity meminjam kan bajunya kepada mereka dan mereka membayar dengan harga spesial. “Jadi kan bisa sekalian promosi” ungkap Adity sambil tertawa.

Selama beberapa tahun menjalani bisnis ini, Adity mengaku mengalami banyak sekali suka duka. Mulai dari menghadapi pelanggan yang selalu complain, pelanggan yang harus tepat waktu, dan masih banyak lagi. Apalagi kalau sudah urusan pembuatan kebaya. Pelanggan harus dilayani dengan sabar karena berhadapan dengan individunya langsung. Mau tidak mau Adity harus bersabar menghadapinya.“Tapi, secara keseluruhan, saya sangat senang menjalani ini semua. Karena ini memang hobi saya” tambah Adity di akhir pembicaraan. *Astrid

Hadiah Ulangtahun Terindah


Apakah Anda mengenal istilah shopaholic? Ya… itu adalah istilah yang ditujukan untuk orang-orang yang gila belanja. Tapi, jangan mengaku gila belanja kalau Anda belum mengenal Adity Boutique. Butik ini terletak di Jl. Taman Cibeunying Utara No.4, Bandung.

Nama Adity Boutique ini diambil dari nama pemiliknya sendiri, yaitu Adity Erlangi. Gadis cantik ini baru genap berusia 19 tahun saat merintis butik ini. “Butik ini hadiah ulangtahun dari orangtua aku. Waktu itu aku ditanya mau hadiah apa, dan aku bilang mau modal untuk buka usaha.” ungkap wanita berambut panjang ini.

Awalnya, pembentukan butik ini memang dibantu oleh keluarganya. Karena itu, bisnis ini bisa dikatakan sebagai bisnis keluarga. Tapi, secara keseluruhan, Adity-lah yang menjalankan semuanya. Adity terus mengembangkan butik ini sambil tetap menjalani kuliahnya. Walaupun sulit, namun Adity mampu melewatinya.

Secara resmi, butik ini memang bediri pada tahun 2008. Tapi sebenarnya, butik ini sudah dirintisnya sejak tahun 2004. Awal berdiri, butik ini hanya berupa rumah kecil yang masih belum berbadan hukum. Kemudian, Adity mulai berpikir untuk serius menjalaninya. Ia mengurus segala sesuatunya sampai akhirnya butik ini memiliki badan hukum yang jelas.

Saat merintis butik ini, Adity hanyalah seorang mahasiswa yang belum paham sepenuhnya tentang bisnis. Ia mendapat banyak pelajaran tentang bisnis melalui kedua orangtuanya. “Latar belakang pendidikan saya sebenarnya bukan design, saya sarjana teknik lho”, begitulah Adity menjelaskan saat ditanya mengenai pendidikan. Adity terus belajar tentang design melalui media-media, baik dalam maupun luar negeri. Melihat-lihat gaya-gaya anak-anak remaja zaman sekarang, atau bahkan gaya-gaya anggota komunitas tertentu yang memiliki keunikan tersendiri.

Barang-barang yang ditawarkan di Adity Boutique ini bermacam-macam, mulai dari baju, sepatu, sandal, dan asesoris, bahkan kebaya. Untuk baju, Adity Boutique tidak hanya menjual produk-produk sendiri, tetapi juga titipan dari orang. Harga yang ditawarkan pun relatif terjangkau. Untuk pakaian, harga yang ditawarkan mulai dari Rp 180 ribu sampai Rp 500 ribu. Sedangkan untuk sepatu dan sendal, harga yang ditawarkan sekitar Rp 150 ribu sampai Rp 400 ribu. Dengan harga-harga itu Anda dijamin tidak akan menyesal, karena barang-barang yang Anda beli tidak mungkin sama dengan orang lain.

Disini, Adity Boutique juga menawarkan berbagai jenis pemesanan. Anda bisa memesan sepatu, sandal, maupun kebaya. Untuk sepatu dan sandal, Adity mengaku telah mengikuti Diploma of Modelist di Italia selama 4 bulan. Adity mengikuti program ini untuk bisa mengembangkan usahanya. “Biar saya ga malu, kalau saya ga punya latarbelakang design” papar wanita cantik kelahiran 2 Maret 1985 ini. Tapi untuk kebaya, mamanya lah yang mengurus. Adity mengaku senang memiliki mama yang selalu mendukung setiap usahanya. “Mama adalah orang yang sangat suka dengan kebaya” paparnya kemudian.

Butik ini berada di sebuah rumah berlantai dua. Rumah ini kemudian dibagi menjadi dua tempat. Di bagian depan digunakan untuk tempat memajang barang-barang yang akan dijual, sedangkan di belakang dan di atas digunakan untuk tempat pembuatannya. Barang-barang yang ditawarkan disini, tidak hanya untuk anak muda saja, tetapi juga untuk ibu-ibu yang masih ingin tampil modish.

Dalam melakukan sebuah usaha, tentu tidak akan langsung berkembang seperti sekarang. Semua butuh perjuangan yang cukup panjang. Sebelum butik ini berdiri seperti sekarang, Adity Boutique hanyalah sebuah butik kecil yang belum memiliki apa-apa. Tempatnya pun masih berpindah-pindah. Tapi sekarang, butik ini sudah berkembang menjadi sebuah butik besar yang maju dan memiliki banyak pelanggan. Adity mengaku bersyukur memiliki orangtua yang memiliki jiwa usaha dan selalu mendorongnya untuk hidup mandiri yang sampai saat ini tertanam dalam dirinya. *Astrid

Senin, 28 September 2009

Huhhh...bingung!!

Ga tau apa yang sebenarnya gw rasain? Tapi hari ini gw ky ada kedekatan lagi sm dy, setelah kmrn2 selama puasa kita jarang banget ngobrol (bahkan hampir gak pernah), jarang banget berinteraksi (mulai dari tugas smpe hal2 yg ecek2). Pokokknya kayak ada jarak yang cukup jauh dan susah buat dilewatin.

Tapi anehnya, hari ini, kita kembali ada kedekatan dan interaksi. Gw ga tau harus seneng atau sedih, tapi keadaan kayak gini malah bikin gw jadi ga tenang lagi. Karena apa?? Soalnya, semakin gw sering berinteraksi sama dy, gw bakal jadi ngerasa ngebutuhin dy dan akhirnya bisa bikin perasaan itu muncul lagi. Semua ini, gw rasain pas gara2 sms. Berawal dari smsan (yang memang ada hal penting), dy jd mulai srg muncul.

Dy itu adalah tipe orang yang bisa bikin orang penasaran. Nah, makanya gw ga mau jadi terlalu deket sm dy supaya gw ga jd penasaran. Dan kalo rasa penasaran itu muncul lagi, gw bisa jadi suka sama dy yang uda jelas2 ga bakalan boleh. Agama! Itu alasan paling kuat yang smpe saat ini msh gw pertahankan. Huhhhh apa yang harus gw lakukan??? Sekarang, gmn caranya supaya gw ga terlalu banyak berinteraksi sm dy?

Ya Tuhan,,kenapa sih selalu aja ada godaan yang dateng yang bikin gw bisa jadi suka??

Ya Tuhan,,tolong!!

Huuhhhh.....bingung!!

Senin, 14 September 2009

KKN Desa Menakutkan...? Tentu Tidak...!

Suatu malam, saya duduk diam di atas tempat tidur, sambil melihat-lihat foto-foto di laptop. Saat itu, ntah mengapa saya teringat akan saat-saat sebelum berangkat KKN. Saya tertawa geli saat membayangkan hari-hari saya sebelum berangkat KKN. Saya teringat bagaimana takutnya saya tiap kali mendengar kabar2 tidak enak mengenai KKN desa.

Ragu-ragu menjelang berangkat KKN? Itu sudah pasti dialami oleh semua mahasiswa Universitas Padjadjaran, Bandung yang akan mengikuti KKN desa. Perasaan takut, cemas, dan was-was tidak hanya dialami oleh mahasiswa peserta KKN saja, tetapi juga orangtua yang memberangkatkan anak-anaknya. Yaa maklum saja, namanya juga orang kota, tentu akan ragu karena harus tinggal di desa selama 40 hari.

Semua mahasiswa, yang totalnya mencapai sekitar 3000an berangkat dari Gedung PTBS, Jatinangor dengan menggunakan bus pariwisata. Pemberangkatan dibagi menjadi 2, yaitu tanggal 13 juli dan 14 juli. Untuk tanggal 13 juli, yang berangkat adalah mahasiswa dengan tujuan KKN di Tasikmalaya, Ciamis, Garut. Sedangkan untuk tanggal 14 juli adalah mahasiswa dengan tujuan KKN di Sumedang, Cianjur, Sukabumi. Semua mahasiswa itu akan berangkat dengan tujuan yang sama, yaitu untuk mencari pengalaman dan belajar menjadi lebih mandiri. Lalu bagaimana dengan pelaksanaannya??

Seluruh mahasiswa, yang berjumalah sekitar 3000an itu akan sudah ditempatkan di berbagai desa. Dalam setiap desanya, mereka terdiri dari 20-30 orang dari berbagai fakultas yang berbeda. Berbeda dengan KKN sebelumnya, dimana mahasiswa peserta KKN diharuskan membuat perubahan kepada desa tempat mereka, namun disini, mereka akan dituntut untuk bekerja sama dalam kelompok untuk belajar bersama dengan masyarakat.
Setelah sampai di desa, hal selanjutnya yang dilakukan adalah pembagian rumah. Kami dibagi ke dalam 3 rumah dan kami tinggal bersama warga. Siapapun orang yang serumah dengan kita, itulah teman hidup yang senasib sepenanggungan kita selama 40 hari.

Sebagaimana layaknya masyarakat di desa itu, kami pun ikut melakukan kegiatan yang mereka lakukan. Kami membantu penyuluhan ppsyandu, mengajar di sekolah-sekolah, dan pemberian motivasi kepada anak-anak. Seminggu pertama memang waktu yang berat untuk beradaptasi. Perubahan suasana dari kota ke desa, perubahan kebiasaan dan rutinitas, sampai kepada perubahan pola makanan. Tapi, setiap mahasiswa pasti punya cara-cara tersendiri untuk mengatasinya. Dan semua itu tidak akan terasa karena adanya kekompakan dan saling tolong menolong satu dengan yang lainnya di dalam rumah. Teman serumah, biasanya akan menjadi seperti saudara kita sendiri karena merekalah orang-orang yang akan menolong kita di saat seperti apapun.

Apa sebenarnya tujuan dari KKN desa ini? Melalui kegiatan KKN desa ini, diharapkan mahasiswa dapat bisa bersatu dengan masyarakat, dapat hidup lebih mandiri, dan bisa belajar untuk memahami sisi lain dari kehidupan ini, yang tentu saja bukan hanya kehidupan yang menyenangkan saja.

Lalu, apa yang terjadi setelah pulang KKN? Ada banyak pengalaman seru dan tak terlupakan tentunya. Semua ketakutan di awal sebelum keberangkatan, menjadi hilang dan yang ada tinggal kenangan manis bersama teman-teman yang tidak akan pernah bisa dilupakan. Mulai dari pengalaman bagaimana cara untuk saling memahami teman satu kelompok yang baru saja mereka kenal, belajar bagaimana cara bertahan hidup di tengah suasana masyarakat yang sederhana, dan pengalaman bagaimana caranya untuk bisa hidup lebih mandiri. Tentu tidak semua orang sanggup untuk melakukan hal ini. Untuk orang-orang yang tahu akan kemampuan dirinya dan merasa tidak sanggup, mereka pasti lebih memilih untuk ikut KKN kota.

Jadi, bagaimana KKN desa menurut Anda? pengalaman yang benar-benar menari dan menyenangkan tentunya!