KKN Desa Menakutkan...? Tentu Tidak...!
Suatu malam, saya duduk diam di atas tempat tidur, sambil melihat-lihat foto-foto di laptop. Saat itu, ntah mengapa saya teringat akan saat-saat sebelum berangkat KKN. Saya tertawa geli saat membayangkan hari-hari saya sebelum berangkat KKN. Saya teringat bagaimana takutnya saya tiap kali mendengar kabar2 tidak enak mengenai KKN desa.
Ragu-ragu menjelang berangkat KKN? Itu sudah pasti dialami oleh semua mahasiswa Universitas Padjadjaran, Bandung yang akan mengikuti KKN desa. Perasaan takut, cemas, dan was-was tidak hanya dialami oleh mahasiswa peserta KKN saja, tetapi juga orangtua yang memberangkatkan anak-anaknya. Yaa maklum saja, namanya juga orang kota, tentu akan ragu karena harus tinggal di desa selama 40 hari.
Semua mahasiswa, yang totalnya mencapai sekitar 3000an berangkat dari Gedung PTBS, Jatinangor dengan menggunakan bus pariwisata. Pemberangkatan dibagi menjadi 2, yaitu tanggal 13 juli dan 14 juli. Untuk tanggal 13 juli, yang berangkat adalah mahasiswa dengan tujuan KKN di Tasikmalaya, Ciamis, Garut. Sedangkan untuk tanggal 14 juli adalah mahasiswa dengan tujuan KKN di Sumedang, Cianjur, Sukabumi. Semua mahasiswa itu akan berangkat dengan tujuan yang sama, yaitu untuk mencari pengalaman dan belajar menjadi lebih mandiri. Lalu bagaimana dengan pelaksanaannya??
Seluruh mahasiswa, yang berjumalah sekitar 3000an itu akan sudah ditempatkan di berbagai desa. Dalam setiap desanya, mereka terdiri dari 20-30 orang dari berbagai fakultas yang berbeda. Berbeda dengan KKN sebelumnya, dimana mahasiswa peserta KKN diharuskan membuat perubahan kepada desa tempat mereka, namun disini, mereka akan dituntut untuk bekerja sama dalam kelompok untuk belajar bersama dengan masyarakat.
Setelah sampai di desa, hal selanjutnya yang dilakukan adalah pembagian rumah. Kami dibagi ke dalam 3 rumah dan kami tinggal bersama warga. Siapapun orang yang serumah dengan kita, itulah teman hidup yang senasib sepenanggungan kita selama 40 hari.
Sebagaimana layaknya masyarakat di desa itu, kami pun ikut melakukan kegiatan yang mereka lakukan. Kami membantu penyuluhan ppsyandu, mengajar di sekolah-sekolah, dan pemberian motivasi kepada anak-anak. Seminggu pertama memang waktu yang berat untuk beradaptasi. Perubahan suasana dari kota ke desa, perubahan kebiasaan dan rutinitas, sampai kepada perubahan pola makanan. Tapi, setiap mahasiswa pasti punya cara-cara tersendiri untuk mengatasinya. Dan semua itu tidak akan terasa karena adanya kekompakan dan saling tolong menolong satu dengan yang lainnya di dalam rumah. Teman serumah, biasanya akan menjadi seperti saudara kita sendiri karena merekalah orang-orang yang akan menolong kita di saat seperti apapun.
Apa sebenarnya tujuan dari KKN desa ini? Melalui kegiatan KKN desa ini, diharapkan mahasiswa dapat bisa bersatu dengan masyarakat, dapat hidup lebih mandiri, dan bisa belajar untuk memahami sisi lain dari kehidupan ini, yang tentu saja bukan hanya kehidupan yang menyenangkan saja.
Lalu, apa yang terjadi setelah pulang KKN? Ada banyak pengalaman seru dan tak terlupakan tentunya. Semua ketakutan di awal sebelum keberangkatan, menjadi hilang dan yang ada tinggal kenangan manis bersama teman-teman yang tidak akan pernah bisa dilupakan. Mulai dari pengalaman bagaimana cara untuk saling memahami teman satu kelompok yang baru saja mereka kenal, belajar bagaimana cara bertahan hidup di tengah suasana masyarakat yang sederhana, dan pengalaman bagaimana caranya untuk bisa hidup lebih mandiri. Tentu tidak semua orang sanggup untuk melakukan hal ini. Untuk orang-orang yang tahu akan kemampuan dirinya dan merasa tidak sanggup, mereka pasti lebih memilih untuk ikut KKN kota.
Jadi, bagaimana KKN desa menurut Anda? pengalaman yang benar-benar menari dan menyenangkan tentunya!

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda